Memikul Dunia dalam "Ketiadaan"
Di sudut kota Zaragoza, Spanyol, ada sebuah monumen yang sanggup menghentikan langkah kaki dan menyesakkan dada bagi siapa pun yang memandangnya.
Patung itu berjudul "The Woman Who Does Nothing".
Wanita yang Tidak Melakukan Apa-apa.
Sebuah judul yang sebenarnya adalah tamparan keras bagi nurani kita.
Beban yang Tak Bersuara,
Sosok tubuh membungkuk tajam, punggung yang seolah hampir patah di bawah tumpukan mesin cuci, ember, dan perabotan rumah tangga.
Itulah simbol dari rutinitas yang menjemukan, pekerjaan yang berulang, dan lelah yang tak pernah mendapat jam istirahat.
Namun, perhatikan tangannya.
Di tengah himpitan beban yang luar biasa itu, jemarinya tetap menggenggam erat tangan anak-anaknya.
Ia tidak hanya sedang membawa barang; ia sedang menjaga sebuah masa depan.
Ia tidak hanya sedang bekerja; ia sedang menjadi tiang penyangga agar dunia kecil di sekitarnya tidak runtuh.
Menghargai yang Tak Terlihat,
Karya Jose Luis Fernandez (2001) ini adalah pengakuan bisu bagi jutaan wanita yang pengabdiannya sering kali dianggap sebagai "kewajiban alami" sehingga terlupa untuk diapresiasi.
Pekerjaan domestik sering dianggap tidak ada karena ia tidak menghasilkan angka di atas kertas, namun justru "ketiadaan" itulah yang memberi kita rasa aman, rumah yang hangat, dan jiwa yang tumbuh dengan stabil.
Kita sering lupa bahwa di balik rumah yang rapi dan makanan yang tersaji, ada sisa-sisa energi yang diperas habis-habisan.
Ada mimpi-mimpi pribadi yang mungkin diletakkan sementara demi memastikan hidup orang-orang tersayang terus berjalan.
Mungkin hari ini adalah waktu yang baik dan tepat untuk memeluk atau sekadar membisikkan terima kasih kepada mereka yang "tidak melakukan apa-apa" di rumah.
Karena faktanya, "tidak melakukan apa-apa" bagi mereka berarti memikul seluruh beban dunia di pundaknya sendirian.
Amsal 31:10, 17, 20, 25-26, 28, 30.
Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.
Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya.
Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin.
Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan.
Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya.
Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula_ suaminya memuji dia:
Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.
Buat para wanita, para mama, para istri.
Terima kasih.
Tuhan memberkati mu selalu.