Altar: pusat peribadahan

Artikel Renungan Harian "Ikutlah Aku" (Edisi 281 - Nopember 2016)

“ALTAR: PUSAT PERIBADAHAN”

“Ibadah” (artinya: mengabdi; menghamba) atau Kebaktian (artinya: berbakti) adalah wujud praktek LITURGI (berasal dari dua kata: Leitos + Ergon – bhs Yunani, – artinya: pekerjaan atau perbuatan orang rendah, hina, kecil, awam, sederhana). Beribadah sebagai sebuah praktek Liturgi adalah pelayanan yang dilakukan oleh umat selaku manusia hina terhadap Allah selaku “Tuan” (TUHAN) yang Mahamulia. Seyogyanya pelayanan itu berwujud sebuah kurban persembahan yang diletakkan di atas Mezbah (Altar) Tuhan.

Gedung “Gereja” adalah kudus (artinya: dikhususkan) karena memang telah dipersembahkan kepada Tuhan dan dikuduskan oleh umat. Hal itu dalam tradisi HKBP dilakukan dengan upacara MBO (Mameakhon Batu Ojahan = Meletakkan “Batu Alas” yaitu seperangkat dokumen gerejani serta Kitab Suci Alkitab yang diletakkan di bawah Altar oleh Ephorus). Gedung itu telah menjadi rumah “milik” Tuhan (Bait Allah) karena di situ ada Mezbah (Altar).

Secara teologis Altar itu dimaknai sebagai tempat Allah bersemayam ke mana umat datang menyembah dan mempersembahkan kurban. Persembahan yang disukai Tuhan bukanlah terutama sebuah kurban (benda atau materi) yang tak bernyawa maupun nyawa ternak yang kita bawa ke depan mezbah/altar, melainkan hati, nyawa bahkan hidup kita sendiri selaku hamba yang hina, kecil dan rendah.

Atas dasar pemahaman tersebut HKBP membangun tradisi iman bagi umat yang datang beribadah setiap Minggu dan mempersembahkan diri serta segenap hidupnya kepada Tuhan. Bahwa Tuhanlah sumber dan asal muasal sekaligus tujuan hidupnya. Karena itu secara arsitektural bangunan gereja dan penataan unsur-unsur perangkat serta doktrin (pokok ajaran) gereja juga mencerminkan makna tersebut, yang dianut dan diajarkan dalam komunitas HKBP, sekaligus kesaksian jemaat kepada dunia luas di sekitarnya.

Tata Ibadah (Liturgi) HKBP secara sistematis tersusun rapi sebagai sebuah “drama” perjumpaan umat dengan Tuhan yang hadir di tengah-tengah umat. Setiap unsurnya merupakan dialog (percakapan) antara Tuhan dengan umat-Nya. Dari situ dan olehnya umat bertumbuh dalam iman.
Dimulai dengan nyanyian Persiapan sebelum Liturgis (paragenda) mengucapkan VOTUM: “Di dalam nama Allah Bapa, dan nama Anak-Nya, Yesus Kristus, dan nama Roh Kudus ...” sampai Penutup dengan jemaat menyanyikan: “Amin, Amin, Amin!” umat terlibat aktif dalam seluruh proses dialog dengan Tuhan. Karena itu, sejak Votum diucapkan Allah sudah hadir di atas Altar, “takhta singgasana-Nya”. Ke sanalah seluruh wajah, mata, hati, dan segenap jiwa seluruh umat HARUS tertuju.

Respons nyata yang dilakukan dengan taat dan segenap hati yang dapat diperlihatkan oleh umat saat beribadah di gereja HKBP, antara lain:
a) Telah hadir dan dapat duduk dengan tenang sebelum Ibadah dimulai untuk mempersiapkan hati (Saat Teduh). Adalah sangat tidak pantas apabila umat datang terlambat setelah Votum dibacakan. Sebab hal itu merupakan sikap sembarangan yang melanggar Hukum Ketiga (// menyebut nama TUHAN Allah dengan sembarangan – Ul. 20:7) yang melecehkan dan menyakiti hati Tuhan.
b) Senantiasa menghadapkan wajah dan segenap hati terarah hanya kepada Tuhan yang hadir melalui Liturgis selaku Imam. Aktifitas umat senantiasa diarahkan ke Altar dan tidak membelakanginya yang mengalihkan perhatian umat dari Altar “mencuri kemuliaan” Tuhan.
c) Saat umat non-tahbisan berdiri di Altar (misalnya: Baptisan, Sidi, Perjamuan Kudus, Pernikahan, Penahbisan) merupakan undangan istimewa dari Tuhan yang harus disambut dengan penuh syukur dan rendah hati dengan memelihara kekudusan Altar Tuhan.

Setiap aktivitas dalam peribadahan adalah satu kesatuan umat dalam kesatuan rangkaian acara yang utuh dan tidak terpecah-pecah oleh kepelbagaian aspek kemanusiaan (sosiologis) atau unsur pribadi individual yang ada. Karenanya tidak ada perbedaan seorang pejabat tinggi atau seorang yang kaya raya dengan seorang pemulung atau tukang ojek. Seorang berkebutuhan khusus (cacat; handycap) atau artis rupawan yang terkenal. Mereka semua adalah satu di mata Tuhan: UMAT YANG MENYEMBAH, yang datang menghadap Tuhan mempersembahkan harta milik dan segenap hidupnya menjadi persembahan yang mengharumkan nama Tuhan, Sang Pemilik kehidupan.

(HKBP Rawamangun)

1 komentar:

  1. Tapi Altar Gereja HKBP gk seragam, yg paling parahnya masa Khotbah di tengah dan di atas meja altar HKBP, Harusnya kalau jika kita HKBP itu aliran Lutheran, tempat Khotbah itu berada di Kanan Altar, bukan ditengah atau kiri altar.
    Semoga aja ini bisa dimaknai serius teologinya.

    BalasHapus