Marah
Suatu hari yang cerah, seorang guru muda berjalan melintasi sebuah desa. Walaupun masih muda usianya , namun kepandaian & kebijaksanaannya terkenal di seluruh penjuru negeri.
Tiba-tiba langkahnya dihentikan oleh seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar, beraut wajah merah, tampak marah & tidak senang.
"Hei" katanya kasar. "Anda tidak berhak mengajari orang lain..!"
Si pemuda berteriak & menghina.
"Tahu tidak. Anda ini sama saja bodohnya dengan orang lain. Punya kepandaian sedikit saja lalu sok tahu ! Badan kecil & nyali besar ya. Ayoo... kalau berani kita berkelahi !"
Dengan wajah tenang, sambil tersenyum, sang guru muda bertanya :
"Teman. Jika seseorang memberi hadiah tetapi orang itu tidak mengambilnya, siapakah pemilik hadiah itu ?"
Spontan, si pemuda menjawab, "Pertanyaan bodoh. Tentu saja ! Hadiah itu tetap menjadi milik si pemberi"
Guru muda ini tersenyum, lalu berkata, "Kamu benar , baru saja anda memberikan marah dan hinaan. Saya tidak menerimanya, apalagi merasa terhina. Kemarahan & Hinaan itu pun kembali kepadamu. Benar kan ? Kamu sekarang menjadi satu-satunya orang yang tidak bahagia. Bukan saya... !. Karena melampiaskan kemarahan adalah sebuah proses menyakiti diri sendiri.
Membangkitkan sel-sel negatif di dalam dirimu, Si Pemuda terdiam. Kepala & Hatinya seperti tersiram air dingin.
Sang guru muda melanjutkan.
"Jika ingin berhenti menyakiti diri sendiri, singkirkan Kemarahan & ubahlah menjadi Cinta Kasih. Ketika membenci orang lain, dirimu sendiri tidak bahagia bahkan tersakiti secara alami ...
Sebab, kalau susu ditekan, mentega dihasilkan, dan kalau hidung ditekan, darah keluar, dan kalau kemarahan ditekan, pertengkaran timbul.
Si pemarah membangkitkan pertengkaran, tetapi orang yang sabar memadamkan perbantahan.
Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.
Have a blessed day
Tidak ada komentar:
Posting Komentar